Tak Perlu Jauh-jauh ke Silicon Valley! Pak Jokowi…

Share

BOGOR, KOMPAS.com – Visi ekonomi digital membutuhkan sumber daya manusia (SDM) siap pakai yang profesional di seluruh Indonesia. SDM siap pakai itu tak lain adalah jutaan siswa SMK di seluruh Indonesia sebagai tenaga operator digital.

siswa_SMK_123“Kita punya jutaan siswa SMK. Ini justru akan menjawab target 1000 startup yang digaungkan pemerintah, karena target itu membutuhkan SDM yang tersebar di 514 kabupaten atau kota bila ingin skala ekonominya se-Indonesia,” ujar CEO Cyber Park, Dedi Yudiant, usai peluncuran Cyber Park Indonesia @Tamansari Cyber, di kawasan Mulyaharja, Bogor, Senin (2/5/2016).

Sejak awal menjabat, Presiden RI Joko Widodo atau Jokowi memang sudah mendorong pendidikan vokasi (kejuruan) untuk dikedepankan, termasuk menyatakan bakal lebih dibutuhkannya siswa lulusan sekolah menengah kejuruan (SMK) ketimbang sekolah umum atau perguruan tinggi. Dorongan itu seirama dengan visi ekonomi digital yang dipaparkan Presiden sendiri ketika berkunjung ke Silicon Valley, bulan Februari 2016 lalu.

Presiden dalam kunjungannya itu mengangkat konsep ekonomi sebagai topik utama. Nilai potensi ekonomi digital Indonesia pada 2020 akan mencapai 130 miliar dollar AS atau setara sekitar Rp 169 triliun dengan kurs Rp 13.000 per dollar AS. Jika konsep itu berjalan dengan baik, nilai itu akan tercapai.

“Tapi, dengan apa mau mencapai target tersebut? Ekonomi digital kan bukan hanya e-commerce, dan Palapa Ring yang pada 2019 pun belum tentu selesai dan bisa digunakan secara stabil. Indonesia hanya tersisa 3,5 tahun untuk mencapai target 2020 itu, bagaimana kita mau mengejarnya?”, ujar Dedi.

Untuk itu, dengan dukungan fiber optik Powertel, Cyber Park Indonesia membangun kawasan fiber optik terbesar di Indonesia. Kawasan hunian cyber atau cyber home tersebut diberi nama Tamansari Cyber.

Didukung SDM dari jutaan siswa SMK, kawasan TIK tersebut akan sangat berdaya guna untuk mewujudkan tujuan ekonomi digital. Berdasarkan data Kementerian Pendidikan RI, ada 4,4 juta siswa SMK yang bisa menjadi generasi siap pakai. Tenaga siswa lulusan SMK itulah yang sebenarnya dibutuhkan mewujudkan visi ekonomi digital itu secara cepat.

“Kenapa SMK, karena kita memang perlu tenaga siap pakai sebanyak mungkin. Kita butuh secara massif tenaga operator, admin, atau developer web. Nah, yang bisa kerja cepat dengan biaya tidak mahal itu SMK,”ujarnya.

Silicon Valley

Target 1000 start up tanpa menyiapkan SDM dan infrastrukturnya, termasuk kawasan inkubasi, akan sulit terwujud. Apalagi, target waktu ekonomi digital tinggal 3 tahun lagi.

“Bukan tak mungkin, pada 2020 nanti anak-anak Indonesia hanya akan jadi buruh digital dan makin konsumtif terhadap produk asing. Indikatornya mudah saja. Kita bisa lihat dari semua media sosial Indonesia selalu menjadi lima besar sebagai pengguna, apakah kita bangga dengan itu?,” ujar Dedi yang juga Ketua Komite Penyelarasan Teknologi Informasi dan Komunikasi (KPTIK).

“Sementara itu, wirausaha kita masih di bawah satu persen, apalagi wirausaha digital masih hitungan jari. Pengangguran muda membesar, arah ekonomi digital kita pun belum ada dan peta SDM-nya sementara masih dari serbuan asing yang terus membengkak. Ini kenyataan,” tambahnya.

Dedi mengingatkan, bahwa program pendidikan nasional masih mengacu pada sistem Amerika dan Inggris yang minimal 4-5 tahun untuk menyelesaikan kuliah. Dengan semakin mengkhawatirkannya invasi digital asing yang semakin membesar, dia berharap dukungan vokasi perlu segera dioptimalkan.

“Karena kurikulum SMK belum seutuhnya sesuai kebutuhan industri digital. Pun, percuma bicara kehebatan software ini dan itu kalau semua dimiliki oleh asing, mulai dari operating system, search engine, layanan email, apps store, messenger, socmed dan platform dasar lainnya, semuanya buatan versi luar,” ujar Dedi.

Dibangun di atas luas tanah sekitar 13 hektar, di Tamansari Cyber ini Dedi menyiapkan program teaching and coaching secara online. Beberapa mentor akan terjun langsung mengajarkan TIK kepada siswa SMK sebagai SDM utamanya dalam mendukung digitalisasi seluruh desa di Indonesia.

Untuk mendukung upaya itu, Dedi membangun fasilitas akses internet kapasitas besar di setiap unit rumah Tamansari Cyber. Setiap rumah terpasang internet dengan kekuatan riil 100 Mbps dengan upload dan download sama (simetris) dengan Opsi IP publik bila ingin menghidupkan server sendiri dari rumah. Bahkan, saat ini sudah progres menuju 1 Gbps setiap rumah dan sedang di-upgrade menuju 10 Gbps.

Dia berharap Presiden Jokowi bisa melihat langsung konsep tersebut dan mencoba fasilitas internet sebagai “blusukan online” gaya baru ke-78 ribu desa se-Indonesia yang didukung oleh siswa-siswi SMK se-Indonesia. Semua bisa dilakukan secara online.

“Jadi, Presiden tidak perlu jauh-jauh naik pesawat ke Sillicon Valley lagi buat lihat Google fiber 1 Gbps. Itu sudah ada di Bogor, yang bahkan dekat dengan Istana Bogor,” kata Dedi.

Penulis : Latief
Editor : Latief
 

Sumber:

edukasi.kompas.com

 


Tulisan ini dipublikasikan di info kini. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *