Silabus Sejarah Indonesia SMA/MA/SMK/MAK Kurikulum 2013 Revisi 2016

Share

I. PENDAHULUAN
A. Rasional
B. Kompetensi Setelah Mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial di Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
C. Kompetensi Setelah Mempelajari Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah/Madrasah Aliyah Kejuruan
D. Kerangka Pengembangan Kurikulum Sejarah Indonesia Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah/Madrasah Aliyah Kejuruan
E. Pembelajaran dan Penilaian
F. Kontekstualisasi Pembelajaran Sesuai dengan Kondisi Lingkungan dan Peserta Didik

II. KOMPETENSI DASAR, MATERI PEMBELAJARAN, DAN KEGIATAN PEMBELAJARAN
A. Silabus Kelas X
B. Silabus Kelas XI
C. Silabus Kelas XII

A. Rasional

Tema sentral pengembangan Kurikulum 2013 adalah naskah yang dapat menghasilkan insan Indonesia yang produktif, kreatif, inovatif, melalui penguatan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang terintegrasi. Dalam rangka mewujudkan hal tersebut, maka proses pembelajaran pada satuan pendidikan harus diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang bagi tumbuhnya prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan potensi bakat, minat, dan perkembangan fisik, serta psikologis peserta didik.

Pengembangan silabus mata pelajaran Sejarah Indonesia berdasarkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di dalam pasal 3 tentang Dasar, Fungsi dan Tujuan ditegaskan bahwa dasar pendidikan nasional adalah Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, fungsi pendidikan nasional adalah mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, dan tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Sesuai dengan tujuan yang diamanatkan oleh Undang-undang No. 20 Tahun 2003, maka dikembangkan kurikulum 2013. Berdasarkan Kurikulum tersebut disusun silabus mata pelajaran Sejarah Indonesia dengan mengintegrasikan kompetensi sikap, pengetahuan dan keterampilan. Ketiga kompetensi ini diberikan dalam bentuk pembelajaran yang berbeda, yakni pengajaran tidak langsung (indirect teaching) untuk kompetensi sikap, dan pengajaran langsung (direct teaching) untuk kompetensi pengetahuan dan keterampilan. Kedua bentuk pengajaran sejarah ini disinergikan menjadi proses pembelajaran yang diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, dan memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik sehingga menghasilkan insan Indonesia yang aktif, kritis, kreatif, inovatif, dan produktif.

Kurikulum 2013 dikembangkan melalui penyempurnaan pola pikir berkaiatan dengan pembelajaran dan upaya dalam menghadapi abad ke-21 yaitu; (1) peserta didik diberi tahu menjadi peserta didik mencari tahu; (2) guru bukan satu-satunya sumber belajar melainkan belajar berbasis aneka sumber; (3) Pendekatan tekstual menjadi pendekatan proses berbasis kontekstual,sebagai penguatan pendekatan ilmiah; (4) pembelajaran berbasis konten menjadi pembelajaran berbasis kompetensi; (5) pembelajaran parsial menjadi pembelajaran terpadu; (6) pembelajaran yang menekankan jawaban tunggal menjadi pembelajaran dengan jawaban yang kebenarannya multi dimensi; (7) pembelajaran verbalisme menjadi pembelajaran dengan keterampilan aplikatif; (8) peningkatan dan keseimbangan antara keterampilan fisik (hard skills) dan keterampilan mental (soft skills); (9) pembelajaran yang mengarahkan peserta didik menjadi pembelajar sepanjang hayat; (10) pembelajaran yang menerapkan nilai-nilai keteladanan (ing ngarso sung tulodo), membangun kemauan (ing madyo mangun karso), dan mengembangkan kreativitas (tut wuri handayani); (11) pembelajaran yang berlangsung di mana saja, baik rumah, sekolah, ataupun masyarakat; (12) pembelajaran yang menjunjung prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah peserta didik, dan dimana saja adalah kelas; (13) pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; (14) pengakuan atas perbedaan individu dan latar belakang budaya peserta didik.

Secara global pada abad ke-21 ini bangsa Indonesia menghadapi tantangan yang berat dari dalam maupun luar. Di dala masyarakat, masyarakat menghadapi berbagai konflik horizontal yang bersifat Suku, Agama, Ras, dan Antar Golongan (SARA), krisis kepercayaan terhadap aparatur dan institusi Negara, Korupsi yang melibatkan anggota dewan, pengusaha, dan aparat penegak hukum semaki merajalela, saling menghujat satu sama lain, jurang pemisah antara kaya dan miskin semakin lebar, dan fenomena lainnya yang cendrung mengarah kepada disintegrasi bagsa. Dari luar, bangsa ini dipengaruhi oleh perkembangan budaya asing yang bebas masuk kedalam negara ini sebagai konsekuensi dari globalisasi, seperti menghadapi komunitas ASEAN 2020 (ASEAN Community 2020) yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2015. Liberalisme, materialisme, sekulerisme, hedonisme, dan konsumersme mempengaruhi pola pikir dan perilaku bangsa ini. Ironinya, bangsa ini enggan untuk belajar dari masa lampau, mengambil pelajaran dari para pendiri bangsa bagaimana setelah melalui proses yang panjang bangsa ini bisa dipersatukan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang masih berdiri tegak sampai saat ini.

Untuk memenuhi tuntutan diatas maka diperlukan pembelajaran sejarah kritis dan komprehensif maka didalam struktur kurikulum 20013 Mata Pelajaran Sejarah menjadi dua bagian mata pelajaran Sejarah Indonesia yang wajib diikuti oleh peserta didik di SMA/MA dan SMK/MAK serta sejarah yang masuk dalam program peinatan atau menjadi pilihan pada lintas minat di SMA/MA.

Pembelajaran Sejarah dirancang untuk membekali peserta didik dengan keterampilan dan cara berfikir sejarah, membentuk kesadaran menumbuh kembangkan nilai-nilai kebangsaan, mengembangkan inspirasi, dan mengaitkan peristiwa lokal dengan peristiwa nasional dalam satu rangkaian Sejarah Indonesia.

Mata Pelajaran Sejarah Indonesia adalah kajian tentang berbagai peristiwa sejarah di Indonesia ditujukan untuk membangun memori kolektif sebagai bangsa agar mengenal jati diri bangsanya dan menjadikannya sebagai landasan dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara pada masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam rangka mengimplementasikan kebutuhan tersebut maka perlu disusun silabus Sejarah Indonesia. Silabus ini kemudian dijabarkan kedalam Rencana Pelaksanakan Pembelajaran (RPP) oleh guru yang diaktualisasikan dalam proses pembelajaran yang sesuai dengan tuntutn abad ke-21.

Silabus ini disusun dengan format dan penyajian/penulisan yang sederhana sehingga mudah dipahami dan dilaksanakan oleh guru. Penyederhanaan format dimaksudkan agar penyajiannya lebih efisien, tidak terlalu banyak halaman namun lingkup dan substansinya tidak berkurang, serta tetap mempertimbangkan tata urutan (sequence) materi dan kompetensinya. Penyusunan silabus ini dilakukan dengan prinsip keselarasan antara ide, desain, dan pelaksanaan kurikulum; mudah diajarkan oleh guru (teachable); mudah dipelajari oleh peserta didik (learnable); terukur pencapainnya (measurable), dan bermakna untuk dipelajari (worth to learn) sebagai bekal untuk kehidupan dan kelanjutan pendidikan peserta didik.

Silabus ini bersifat fleksibel, kontekstual, dan memberikan kesempatan kepada guru untuk mengembangkan dan melaksanakan pembelajaran, serta mengakomodasi keunggulan-keunggulan lokal. Atas dasar prinsip tersebut, komponen silabus mencakup kompetensi dasar, materi pembelajaran, dan kegiatan pembelajaran. Uraian pembelajaran yang terdapat dalam silabus merupakan alternatif kegiatan yang dirancang berbasis aktivitas. Pembelajaran tersebut merupakan alternatif dan inspiratif sehingga guru dapat mengembangkan berbagai model yang sesuai dengan karakteristik masing-masing mata pelajaran. Dalam melaksanakan silabus ini guru diharapkan kreatif dalam pengembangan materi, pengelolaan proses pembelajaran, penggunaan metode dan model pembelajaran, yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi masyarakat serta tingkat perkembangan kemampuan kemampuan peserta didik.

B. Kompetensi Setelah Mempelajari Ilmu Pengetahuan Sosial Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi salah satu mata pelajaran di pendidikan dasar (SD/MI dan SMP/MTs), sedangkan di pendidikan menengah (SMA/MA) IPS dikenal sebagai kelompok peminatan bersama-sama dengan peminatan MIPA; Bahasa dan Budaya. IPS di pendidikan dasar khususnya SD, bersifat terpadu-integreted karena itu pembelajarannya tematik. Pada kelas rendah (I, II, dan III) IPS dipadukan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia, PPKn, dan Matematika; pada SD/MI kelas tinggi (Kelas IV, V, dan VI) menjadi mata pelajaran yang berdiri sendiri. Pada jenjang SMP/MTs, pembelajarannya bersifat terpadu-korelatif, secara materi konsep-konsep ilmu sosial dalam IPS belum terikat pada tema. Pada pendidikan menengah yaitu SMA/MA IPS menjadi kelompok peminatan, yang di dalamnya terdiri atas mata pelajaran yang berdiri sendiri (monodisipliner) yaitu Geografi, Sosiologi, Ekonomi, dan Sejarah serta Sejarah Indonesia sebagai kelompok umum yang wajib dipelajari peserta didik di SMA dan SMK atau MA dan MAK.

Setelah mengikuti pembelajaran IPS di pendidikan dasar dan kelompok peminatan Ilmu Pengetahuan Sosial di pendidikan menengah, peserta didik akan memiliki kemampuan sebagai berikut.
• Mengenal dan memahami konsep-konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan lingkungannya;
• Mengaplikasikan teori, pendekatan dan metode ilmu-ilmu sosial dan humaniora, dalam penelitian sederhana dan mengomunikasikan secara lisan dan/atau tulisan sesuai dengan kaidah penulisan ilmiah dengan memanfaatkan teknologi informasi;
• Berpikir logis dan kritis, rasa ingin tahu, inkuiri, kreatif, inovatif, kolaboratif dan terampil menyelesaikan masalah dalam kehidupan masyarakat;
• Memahami dampak dari perkembangan ilmu pengetahuan terhadap perkem¬bangan teknologi dan kehidupan manusia baik di masa lalu maupun potensi dampaknya di masa depan bagi dirinya, orang lain, dan lingkungannya
• Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan serta bangga menjadi warga negara Indonesia; dan
• Berkomunikasi, bekerja sama, dan berdaya saing dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal, nasional, global.

C. Kompetensi Setelah Mempelajari Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas/ Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah/Madrasah Aliyah Kejuruan

Kompetensi yang dikembangkan dalam mata pelajaran Sejarah Indonesia pada tingkat SMA/MA, SMK/MAK meliputi;

Kelas Kompetensi
X ·         Menganalisis peristiwa sejarah

·         Mengaitkan antara satu peristiwa sejarah dengan peristiwa sejarah lainnya

XI ·         Menganalisis  untuk menentukan pokok pikiran (konsep atau teori)

·         Mengevaluasi berdasarkan kriteria  internal (berdasarkan pemahaman peserta didik)

XII ·         Mengevaluasi berdasarkan kriteria eksternal (berdasarkan pendapat yang sudah teruji dan berlaku secara umum)

·         Mencipta atau merekonstruksi peristiwa sejarah dalam bentuk tulisan

D. Kerangka Pengembangan Kurikulum Sejarah Indonesia Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah/ Madrasah Aliyah Kejuruan

Mata pelajaran Sejarah Indonesia merupakan mata pelajaran yang wajib diikuti oleh seluruh peserta didik di Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah (MA)/ Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK).

Kerangka Pengembangan Kurikulum Sejarah Indonesia mengombinasikan dua teori, yakni pendidikan berdasarkan standar (standard-based education) dan kurikulum berbasis kompetensi (competency-based curriculum). Oleh karena itu, mata pelajaran sejarah berdasarkan standar nasional yang telah ditetapkan pemerintah tentang standar minimal peserta didik dan memberikan pengalaman belajar seluas-luasnya bagi peserta didik dalam mengembangkan kemampuan untuk bersikap, berpengetahuan, berketerampilan, dan bertindak. Kombinasi kedua teori itu tercermin dalam Kompetensi Inti, yakni tingkat kemampuan untuk mencapai standar kompetensi lulusan yang harus dimiliki peserta didik pada setiap tingkat kelas atau program.
KOMPETENSI INTI JENJANG SMA/SMK

Aspek Kompetensi Kelas X Kelas XI Kelas XII
Spiritual Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
Sosial Menunjukkan perilaku jujur, disiplin,tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif, sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun, responsif dan proaktif, sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli (gotong royong, kerjasama, damai), santun, responsif dan proaktif, sikap sebagai bagian dari solusi atas berbagai permasalahan dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
Pengetahuan Memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Memahami, menerapkan, dan menganalisis pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah Memahami, menerapkan,  menganalisis dan  mengevaluasi pengetahuan faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif berdasarkan rasa ingintahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
Keterampilan Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri, bertindak secara efektif dan kreatif, serta mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan Mengolah, menalar, menyaji, dan mencipta dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah secara mandiri serta bertindak secara efektif dan kreatif, dan mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan

Kompetensi Sikap Spiritual dan Sikap Sosial, dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching) yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Penumbuhan dan pengembangan Kompetensi Sikap dilakukan sepanjang proses pembelajaran berlangsung dan dapat digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut.

Ruang Lingkup Mata Pelajaran Sejarah Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA)/Sekolah Menengah Kejuruan (SMK)/Madrasah Aliyah (MA)/ Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK) membahas materi yang meliputi zaman:

Ruang Lingkup Mata Pelajaran Sejarah Indonesia

Ruang Lingkup Mata Pelajaran Sejarah Indonesia

Peta Materi Sejarah Indonesia

X XI XII
Cara berpikir sejarah

·       Cara berpikir kronologis dalam mempelajari sejarah

·       Cara berpikir diakronik dalam mempelajari sejarah

·       Cara berpikir sinkronik dalam mempelajari sejarah

Perkembangan kolonialisme dan imperialisme Eropa

·         Proses masuk dan perkembangan penjajahan bangsa Eropa

·         Perebutan politik hegemoni bangsa Eropa

·         Strategi perlawanan bangsa Indonesia terhadap penjajahan bangsa Eropa sampai awal abad ke-20

Perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan integrasi bangsa dan Negara RI

·         Upaya bangsa Indonesia dalam menghadapi ancaman disintegrasi bangsa

·         Upaya bangsa Indonesia dalam mempertahankan keutuhan wilayah NKRI

·         Tokoh nasional dan daerah yang berjuang mempertahankan keutuhan negara dan bangsa Indonesia pada masa 1945-1965

Konsep perubahan dan keberlanjutan

·         Makna perubahan

·         Makna keberlanjutan

Dampak politik, budaya, sosial, ekonomi, dan pendidikan  pada masa penjajahan bangsa Eropa (Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris) dalam kehidupan bangsa Indonesia masa kini

·      Politik; struktur pemerintahan

·      Budaya; budaya Indis

·      Sosial; stratifikasi sosial

·      Ekonomi; sistem ekonomi, keuangan dan perbankan

·      Pendidikan; sistem kurikulum dan penjenjangan

 

Indonesia pada masa awal kemerdekaan sampai dengan Demokrasi Terpimpin

·       Perkembangan kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya bangsa Indonesia pada masa awal kemerdekaan

·       Perkembangan kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya bangsa Indonesia pada masa Demokrasi Liberal

·       Perkembangan kehidupan politik, ekonomi, sosial, dan budaya bangsa Indonesia pada masa Demokrasi Terpimpin

 

Indonesia zaman pra aksara: awal kehidupan manusia Indonesia

·         Manusia purba

·         Asal-usul nenek moyang bangsa Indonesia

·         Corak kehidupan Masyarakat

·         Hasil-hasil budaya masyarakat

·         Nilai-nilai budaya masyarakat

Nilai-nilai dan makna Sumpah Pemuda

·      Latar belakang Sumpah Pemuda

·      Peristiwa Sumpah Pemuda

·      Penguatan jati diri Keindonesiaan

·      Nilai-nilai Sumpah Pemuda

 

 

Kehidupan Bangsa Indonesia pada masa Orde Baru sampai Reformasi

·         Kehidupan politik dan ekonomi pada masa Orde Baru

·         Kehidupan politik dan ekonomi pada masa Reformasi

·         Peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia

Indonesia zaman Hindu dan Buddha: Silang budaya lokal dan global tahap awal

·         Teori-teori masuknya agama dan kebudayaan Hindu dan Buddha

·         Kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha

·         Bukti-bukti kehidupan pengaruh Hindu dan Buddha yang masih ada sampai masa kini

Pendudukan Jepang di Indonesia

·         Kedatangan Jepang

·         Sifat pendudukan Jepang

·         Respon bangsa Indonesia terhadap pendudukan Jepang

Peran Bangsa Indonesia dalam perdamaian dunia

·         Peran Bangsa Indonesia dalam perdamaian dunia antara lain: KAA, misi Garuda, Deklarasi Djuanda, Gerakan Non Blok, ASEAN, OKI, Jakarta Informal Meeting

Zaman kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia

·         Teori-teori masuknya agama dan kebudayaan Islam

·         Kerajaan-kerajaan Islam

·         Bukti-bukti kehidupan pengaruh Islam yang masih ada sampai masa kini

Tokoh-tokoh nasional dan daerah dalam memperjuangkan kemerdekaan

 

 

Prestasi Bangsa Indonesia dalam mengembangkan iptek pada era kemerdekaan

·       Revolusi hijau

·       Teknologi transportasi

·       Teknologi kedirgantaraan

·       Teknologi komunikasi dan informasi

·        Teknologi arsitektur dan konstruksi

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

·         Peristiwa proklamasi Kemerdekaan

·         Pembentukan pemerintahan pertama RI

·         Tokoh proklamator dan tokoh lainnya sekitar proklamasi

Kehidupan Bangsa Indonesia pada masa Orde Baru sampai Reformasi

·         Kehidupan politik dan ekonomi pada masa Orde Baru

·         Kehidupan politik dan ekonomi pada masa Reformasi

·         Peran pelajar, mahasiswa, dan pemuda dalam perubahan politik dan ketatanegaraan Indonesia

E. Pembelajaran dan Penilaian
Pembelajaran
• Pembelajaran pada Kurikulum 2013 dengan menggunakan pendekatan saintifik merupakan kerangka pembelajaran, sebagai bentuk adaptasi dari langkah-langkah ilmiah. Model pembelajaran yang diperlukan adalah pembelajaran yang memberikan ruang bagi pembiasaan kecakapan berpikir ilmiah sehingga mampu mengembangkan kemampuan menemukan (sense of inquiry) dan kemampuan berpikir kreatif peserta didik. Pendekatan saintifik lebih menekankan pada proses pembelajaran bagaimana pengetahuan itu diperoleh daripada hasil pengetahuan itu sendiri.
• Proses pembelajaran dapat diidentikkan dengan proses saintifik jika berbasis pada bukti-bukti dari objek yang dapat diobservasi, empiris, dan terukur dengan prinsip-pinsip penalaran yang spesifik. Proses pembelajaran dengan pendekatan saintifik memiliki beberapa langkah, yang mana pada setiap langkah melekat keterampilan khusus untuk kemudian dipelajari dan di terapkan secara bertahap oleh peserta didik yaitu: mengamati, menanya, mengumpulkan sumber/informasi, menalar/mengasosiasi, dan mengomunikasikan.
• Model-model pembelajaran yang dapat digunakan dalam pembelajaran sejarah sehingga dapat membangkitkan rasa ingin tahu, sikap kritis, dan kreativitas peserta didik, antara lain:
1. Discovery based learning

Discovery based learning

Discovery based learning

2. Project based learning

Project based learning

Project based learning

3. Problem based learning

Problem based learning

Problem based learning

Penilaian

Penilaian otentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah (scientific approach) dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013. Penilaian otentik mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/ mengasosiasi, atau mengomunikasikan. Penilaian otentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi yang meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan.
Teknik penilaian yang dapat digunakan antara lain:
• Sikap sosial dan spiritual: observasi dan jurnal. Penilaian sikap digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut sesuai dengan kondisi dan karakteristik peserta didik.
• Pengetahuan: uraian, pilihan ganda, diskusi, tanya jawab, dan penugasan
• Keterampilan: unjuk kerja, proyek, produk, portofolio
Penilaian sikap digunakan sebagai pertimbangan guru dalam mengembangkan karakter peserta didik lebih lanjut sesuai dengan kondisi dan karakteristik peserta didik.

F. Kontekstualisasi Pembelajaran Sesuai dengan Kondisi Lingkungandan Peserta Didik

Kontekstualisasi pembelajaran pada mata pelajaran Sejarah Indonesia yaitu suatu cara yang dilakukan dalam kegiatan pembelajaran sejarah yang dikaitkan dengan masa kini dan bersifat kontekstual. Ada beberapa cara dalam melakukan kontekstualisasi mata pelajaran Sejarah Indonesia yaitu; (1) pemanfaatan lingkungan dan fenomena sebagai sumber belajar; (2) pemanfaatan teknologi informasi; dan (3)pemanfaatan buku teks dan LKS.

Pemanfaatan Lingkungan dan Fenomena
Kontekstualisasi pembelajaran Sejarah Indonesia dengan pemanfaatan lingkungan dan fenomena yaitu dengan menggunakan sumber-sumber belajar sejarah yang ada di lingkungan seperti situs peninggalan sejarah atau lingkungan alam yang ada di sekitar sekolah atau lingkungan terdekat dan memiliki keterkaitan dengan materi sejarah yang dipelajari. Misalnya di dekat sekolah terdapat museum, situs sejarah, hutan yang “disakralkan”, bangunan-bangunan sejarah, dan sebagainya. Dalam lingkungan tersebut dapat pula menunjukkan adanya fenomena sejarah di masa lalu yang ada kemiripan dengan masa sekarang. Misalnya peninggalan tata kota pada kota-kota tua di masa lalu dan pengelolaan lingkungannya dengan penataan kota di masa sekarang. Bahkan juga dari tata kota tersebut bisa dilihat bagaimana masyarakat masa lalu memelihara lingkungan alam yang penuh dengan kearifan lokal bisa dikaitkan dengan pelestarian lingkungan sekarang.

Pemanfaatan Teknologi Informasi
Pemanfaatan teknologi informasi merupakan salah satu cara yang dilakukan agar pembelajaran sejarah menjadi kontekstual dan menarik. Teknologi informasi yang digunakan dapat berupa informasi dari link terkait (misalnya google), film dokumenter, foto-foto sejarah, video sejarah, perpustakaan digital, museum digital, dan sebagainya. Penggunaan teknologi informasi akan menjadi kontekstual dengan menampilkan materi sejarah menjadi hidup, seolah-olah hadir pada saat ini dan tidak terjebak pada pengolahan materi yang bersifat verbalistik seperti metode ceramah. Pemanfaatan teknologi informasi ini disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah dimana satuan pendidikan itu berada.

Pemanfaatan Buku Teks dan LKS.
Buku teks merupakan bahan tertulis yang berfungsi sebagai sumber belajar utama dan sekaligus membelajarkan peserta didik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang mengacu pada Kompetensi Inti (KI) dan Kompetensi Dasar (KD). Buku teks dapat pula menjadi pedoman yang menjabarkan usaha minimal yang harus dilakukan peserta didik untuk mencapai kompetensi yang diharapkan. Dalam penggunaan buku teks guru dan peserta didik dituntut memahai maksud dan tujuan buku teks, isi materi, latihan dan tugas yang tercantum dalam buku teks. Khusus bagi guru harus memiliki kompetensi dan keterampilan bagaimana menciptakan suasana pembelajaran yang menarik dan berbasis aktivitas belajar peserta didik.
Lembar Kerja Siswa (LKS) merupakan suplemen yang dibuat dan digunakan oleh guru untuk mendukung tercapainya tujuan pembelajaran. LKS bukan sekedar kumpulan soal-soal, melainkan harus berupa petunjuk kepada peserta didik untuk menyelesaikan suatu tugas dalam lembar kegiatan untuk mencapai Kompetensi Dasar (KD).

Kegiatan Pembelajaran pada silabus ini dapat disesuaikan dan diperkaya dengan konteks daerah dan/atau sekolah, aspek kekinian, serta konteks global untuk mencapai kualitas optimal hasil belajar peserta didik sesuai dengan Kompetensi Dasar. Kontekstualisasi pembelajaran tersebut bertujuan agar peserta didik tetap berpijak pada budayanya, mengenal dan mencintai lingkungan alam serta sosial di sekitarnya, dikaitkan dengan perkembangan kekinian serta memiliki perspektif global sekaligus menjadi pewaris bangsa yang tangguh dan berbudaya Indonesia.


Tulisan ini dipublikasikan di Mapel A dan tag , . Tandai permalink.