biarkan aku menjadi mampu

Share

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi Allah yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan memainkan semua peran:
ya jadi ibu,
ya jadi koki,
ya jadi tukang cuci;
ya jadi ayah,
ya jadi sopir,
ya jadi tukang ledeng.

ilustrasi

ilustrasi

Anda bukan anggota tim SAR! Anak anda tidak dalam keadaan bahaya “tidak ada sinyal SOS” jangan terlalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

*anak anda mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa menyambung menjadi satu – “sini…. Ayah bantuin.”
*Tutup botol minum sedikit susah dibuka – “sini… Mama saja.”
*tali sepatu sulit diikat – “Sini.. Ayah ikatkan.”
* Kecipratan sedikit minyak – “sudah sini, Mama saja yang masak.”
Kapan anaknya bisa?

Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana – apa yang akan terjadi ketika bencana benar-benar datang?
Biarkan anak-anak berkesempatan untuk menemukan solusinya sendiri. Kemampuan untuk menangani stres, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi merupakan ketrampilan yang wajib dimiliki, dan ketrampilan itu harus dilatih untuk bisa trampil. Ketrampilan/skill tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim.

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak puluhan tahun ke depan. Bukan saja membuat seseorang lulus sekolah tinggi, tapi juga melewati ujuan badai pernikahan dan kehidupannya kelak.
Tampaknya sepele sekarang… secara apalah salahnya kita bantu anak? Tapi jika anda segera bergegas menyelamanatkan dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu.
“sakit sedikit, mengeluh…”
“berantem sedikit, bercerai…”
“masalah sedikit, jadi gila…”

Jika anda menghabiskan banyak waktu dan uang untuk IQ nya, maka habiskanlah pula hal sama untuk AQ nya.
AQ (Adversity Quotient) adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami. (Paul G. Stoltz). Bukankah kecerdasan ini lebih penting dari IQ? Untuk menghadapi masalah sehari-hari? Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya. Bisa menyelesaikan masalah dari yang sederhana sampai yang tersulit, membuat diri semakin percaya bahwa minta tolong hanya dilakukan ketika kita benar-benar tidak sanggup lagi.
So, izinkanlah anak anda melewati kesulitan hidup…

“tidak masalah anak anda mengalami sedikit luka, sedikit menangis, sedikit kecewa, sedikit telat dan sedikit kehujanan”
Tahan lidah, tangan dan hati dari memberi bantuan, ajari mereka menangani frustasi.
Kalau anda selalu menjadi ibu peri atau guardian angel – “apa yang akan terjadi jika anda tidak bernafas lagi esok hari…?” bisa bisa anak anda ikut mati.

Sulit memang untuk tidak mengintervensi, ketika melihat anak anda sendiri susah, sakit dan sedih. Apalagi menjadi orang tua, insting melindungi adalah yang pertama. Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri sebagai orang tua. Tapi sadarilah, hidup tidaklah mudah, masalah akan selalu ada dan mereka harus bisa bertahan melewati hujan badai dan kesulitan yang kadang tidak bisa dihindari.
By: Ibu Elly Risman (senior psikolog dan konsultan UI)


Tulisan ini dipublikasikan di Inspirasi, Opini dan tag , , , , , , . Tandai permalink.